“Tari klasik Keraton bukan sekadar pertunjukan estetika, melainkan media pewarisan nilai, etika, kepemimpinan, dan filosofi hidup masyarakat Jawa yang diwariskan lintas generasi.” Oleh: Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU) Beksan Pethilan yang Menghidupkan Epos Mahabharata Di lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, tari klasik merupakan bagian penting dari warisan budaya yang memadukan unsur sastra, musik, tata busana, filsafat, dan pendidikan karakter. Salah satu di antaranya adalah Kagungan Dalem Beksan Jungkung Mardeya, sebuah beksan pethilan atau tari fragmen yang mengangkat adegan peperangan dari epos Mahabharata. Beksan ini menampilkan duel antara Prabu Jungkung Mardeya, Raja Parangteja, melawan Raden Janaka (Arjuna), seorang kesatria Pandawa yang dikenal sebagai lambang kebijaksanaan, keberanian, serta pengendalian diri. Lebih dari sekadar kisah peperangan, Beksan Jungkung Mardeya menyampaikan pesan moral tentang kemenangan kebajikan atas kesombongan, sekaligus memperlihatkan tingginya pencapaian estetika tari klasik Yogyakarta. Sejarah Beksan Jungkung Mardeya Beksan Jungkung Mardeya merupakan salah satu tari klasik keprajuritan yang berasal dari lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ceritanya bersumber dari manuskrip kuno berjudul Pocapan Beksan Pethilan Perangipun Janaka–Jungkungmardeya, yang tersimpan di Perpustakaan Widya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan kode klasifikasi T.36. Naskah tersebut memuat dialog (pocapan), kandha (narasi), serta petunjuk pementasan yang dahulu digunakan dalam pertunjukan Wayang Wong, khususnya pada adegan peperangan antara Prabu Jungkung Mardeya dan Raden Janaka. Sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya, Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali merekonstruksi dan mementaskan Beksan Jungkung Mardeya dalam pagelaran Uyon-Uyon Hadiluhung edisi 17 November 2025. Rekonstruksi dilakukan berdasarkan pembacaan naskah asli T.36 dengan tetap mempertahankan substansi cerita serta melakukan penyesuaian terhadap ragam gerak agar sesuai dengan kebutuhan penyajian masa kini. Upaya tersebut menjadi bukti komitmen Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menjaga kesinambungan tradisi seni klasik sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Jalan Cerita Beksan Jungkung Mardeya mengisahkan perseteruan antara Prabu Jungkung Mardeya, Raja Parangteja, dengan Raden Janaka, salah seorang Pandawa yang masyhur karena kebijaksanaan dan kemahirannya memanah. Kisah ini merupakan bagian dari lakon Wayang Purwa Srikandhi Maguru Manah, yaitu masa ketika Dewi Srikandhi menimba ilmu memanah kepada Janaka. Konflik bermula ketika Prabu Jungkung Mardeya berniat membawa sekaligus mempersunting Dewi Srikandhi, putri Kerajaan Cempalaharja. Sebagaimana termaktub dalam kandha manuskrip T.36: “Wauta! Nenggih hingkang kacariyosaken punika, kocapa nata nagari Parangteja, Sang Prabu Jungkung Mardeya, hingkang arsa mboyong putri adi hing nagari Cempalaharja, arum-arum Sang Dyah Wara Srikandhi.” Terjemahan: “Syahdan, di Negeri Parangteja, Sang Prabu Jungkung Mardeya berkehendak membawa putri dari Negeri Cempalaharja yang bernama Sang Dyah Wara Srikandhi.” Keinginan tersebut diketahui oleh Janaka. Sebagai pelindung kehormatan Dewi Srikandhi, Janaka menghadang niat sang raja. Perselisihan pun tidak dapat dihindarkan. Prabu Jungkung Mardeya tetap bersikeras memperistri Dewi Srikandhi, sedangkan Janaka menolak dengan tegas. Ketegangan akhirnya berkembang menjadi peperangan terbuka. Naskah T.36 menggambarkan kedua tokoh sebagai ksatria pilihan. “Wondene risang kekalih, tuhu saya prajurit pinunjul, yekti Sang Prabu Jungkung Mardeya puniku, nyata sektri mandraguna, dene Raden Janaka puniku, yekti satriya tanpa tandhing.” Terjemahan: “Keduanya merupakan prajurit unggul. Sang Prabu Jungkung Mardeya adalah raja yang sangat sakti, sedangkan Raden Janaka merupakan kesatria yang tiada tanding.” Pertempuran berlangsung sengit menggunakan tameng dan dhuwung (keris kecil) sebagai senjata utama. Setelah melalui duel yang panjang dan penuh ketegangan, Janaka akhirnya berhasil mengalahkan Prabu Jungkung Mardeya. Struktur Penyajian Tari Dalam manuskrip aslinya, Beksan Jungkung Mardeya dibawakan oleh dua orang penari putra yang memerankan tokoh Janaka dan Prabu Jungkung Mardeya. Pada penyajian Uyon-Uyon Hadiluhung 17 November 2025, komposisi tersebut dikembangkan menjadi empat penari, sehingga masing-masing tokoh diperankan oleh dua penari. Walaupun sama-sama termasuk karakter alus, kedua tokoh memiliki pembawaan yang berbeda. Prabu Jungkung Mardeya Memiliki karakter: alus lanyap mbranyak Karakter tersebut menggambarkan pribadi yang halus, namun ambisius, angkuh, dan memiliki rasa percaya diri yang berlebihan. Raden Janaka Berkarakter: alus luruh Janaka melambangkan sosok ksatria yang tenang, rendah hati, bijaksana, serta mampu mengendalikan hawa nafsu. Kontras karakter inilah yang menjadi kekuatan dramatik utama dalam pertunjukan. Secara keseluruhan struktur tari terdiri atas tiga bagian utama: 1. Maju Beksan Penari memasuki arena menggunakan gerak tayungan majeng, kemudian melakukan sembahan sebagai penghormatan. 2. Beksan Bagian inti tari menampilkan berbagai ragam gerak klasik, antara lain: Gajah Ngoling Mayuk Jinjit Panggel Kiwa Cepeng Tancep Selanjutnya berkembang menuju adegan peperangan menggunakan tameng dan dhuwung. Gerak saling menyerang, menangkis, menghindar, dan bertahan dipadukan dengan iringan gamelan yang semakin cepat sehingga membangun suasana dramatik. Puncak cerita terjadi ketika Janaka berhasil menaklukkan Prabu Jungkung Mardeya. 3. Mundur Beksan Setelah peperangan usai, iringan gamelan kembali melambat. Para penari meninggalkan arena melalui gerak tayungan, menandai berakhirnya pertunjukan. Komposisi Gendhing Beksan Jungkung Mardeya menggunakan laras Slendro Pathet Sanga. Urutan komposisi gendhing meliputi: Lagon Wetah Lagon Ngelik Majeng Gendhing Ayak-ayak Bedhaya Ada-ada Ketawang Laras Driya Ladrang Lompong Keli Dados Garap Rog-Rog Asem Gangsaran Ketawang Sangupati Ladrang Lompong Keli Gangsaran Ayak-ayak Bedhaya Lagon Jugag Susunan tersebut menghasilkan dinamika musikal yang berkembang dari suasana tenang menuju ketegangan peperangan, kemudian kembali teduh pada bagian penutup. Tata Busana Dalam pementasan Uyon-Uyon Hadiluhung, para penari mengenakan busana gladhen atau busana latihan tari klasik. Busana tersebut meliputi: Udheng Lonthong Abrit Sonder Gendhala Giri Abrit Kamus Untu Walang Sinjang motif Seling Kawung Dominasi warna merah melambangkan semangat keprajuritan, keberanian, sekaligus keteguhan hati dalam menghadapi ujian kehidupan. Nilai Filosofis Di balik adegan peperangan, Beksan Jungkung Mardeya mengandung ajaran moral yang sangat mendalam. Pertarungan antara Janaka dan Prabu Jungkung Mardeya merupakan simbol pergulatan batin manusia antara kebijaksanaan dan kesombongan. Prabu Jungkung Mardeya merepresentasikan ambisi yang tidak terkendali, keangkuhan, serta keinginan untuk memiliki sesuatu melalui kekuasaan. Sebaliknya, Janaka menjadi lambang kesatria yang menjunjung tinggi kebenaran, kehormatan, serta pengendalian diri. Kemenangan Janaka bukan semata kemenangan fisik, melainkan kemenangan nilai-nilai luhur atas hawa nafsu, ego, dan keserakahan. Filosofi tersebut tetap relevan dalam kehidupan modern sebagai pengingat bahwa kepemimpinan sejati dibangun melalui kebijaksanaan, integritas, dan kerendahan hati. Upaya Pelestarian Warisan Budaya Rekonstruksi dan pementasan kembali Beksan Jungkung Mardeya pada Uyon-Uyon Hadiluhung 17 November 2025 merupakan bagian dari komitmen Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam melestarikan seni pertunjukan klasik yang bersumber dari manuskrip-manuskrip Kagungan Dalem. Bagi Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU), dokumentasi dan publikasi mengenai Beksan Jungkung Mardeya merupakan bentuk dukungan terhadap pelestarian warisan budaya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, sekaligus upaya memperkenalkan nilai-nilai luhur budaya Jawa kepada masyarakat luas. Melalui edukasi budaya yang berkesinambungan, diharapkan generasi muda tidak hanya mengenal tari klasik sebagai sebuah pertunjukan seni, tetapi juga memahami filosofi, sejarah, dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya sebagai bagian dari jati diri budaya Nusantara. Daftar Pustaka Asri Rachmadani & R.M. Pramutomo. 2017. Tari Bramastra Karya Wahyu Santoso Prabowo dalam Pandangan Metafora. Jurnal Greget, Vol. 16 No. 1. Jennifer Lindsay, dkk. 1994. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 2: Kraton Yogyakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Naskah T.36 Pocapan Beksan Pethilan Perangipun Janaka–Jungkungmardeya, Koleksi Perpustakaan Widya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. RRiyo Rogomurti. 2025. Serat Kandha lan Pocapan Beksan Jungkung Mardeya. Yogyakarta: Kawedanan Kridhamardawa. Mas Riyo Susilomadyo. 2025. Notasi Beksan Jungkung Mardeya. Yogyakarta: Kawedanan Kridhamardawa. Wawancara dengan RRiyo Rogomurti (4 November 2025). Wawancara dengan MB Kayunsumekto (9 November 2025). Karaton Ngayogyakarta Hadiningreat (https://kratonjogja.id) Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU)Website: www.prajariau.org | www.prajariau.idE-mail: admin@prajariau.org Post navigation KAGUNGAN DALEM BEKSAN BEDHAYA BABARLAYAR: Warisan Adiluhung Tari Sakral Keraton Yogyakarta yang Merawat Sejarah, Kepahlawanan, dan Keagungan Budaya Jawa. KAGUNGAN DALEM BEKSA SRIMPI MERAK KESIMPIR.