Warisan Adiluhung Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang Memadukan Keanggunan, Kepahlawanan, dan Falsafah Jawa Pendahuluan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan salah satu pusat peradaban Jawa yang hingga kini terus menjaga kesinambungan tradisi, seni, sastra, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Di antara kekayaan budaya tersebut, tari Srimpi menempati posisi yang sangat istimewa sebagai salah satu pusaka budaya adiluhung Keraton. Salah satu repertoar yang memiliki nilai sejarah dan estetika tinggi adalah Kagungan Dalem Beksa Srimpi Merak Kesimpir, sebuah karya tari klasik yang menggambarkan perpaduan kehalusan gerak, filosofi keprajuritan perempuan Jawa, serta keindahan sastra dan karawitan Keraton. Pada penyelenggaraan Uyon-Uyon Hadiluhung edisi 4 Sura Dal 1959 Jawa atau 30 Juni 2025, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali mempersembahkan Srimpi Merak Kesimpir sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya yang telah hidup selama lebih dari satu abad. Kandha Srimpi Merak Kesimpir Sebagai sebuah tari klasik Keraton, Srimpi Merak Kesimpir diawali dengan Kandha, yakni narasi pembuka yang berfungsi menjelaskan asal-usul, makna, serta lakon yang akan dipentaskan. Kandha tersebut berbunyi: Sebet byar wauta, anenggih ingkang kawiyosaken punika Lelangen Dalem Srimpi… Kandha tersebut menjelaskan bahwa Srimpi Merak Kesimpir merupakan karya Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang mengambil cerita dari Serat Ringgit Purwa, yakni kisah peperangan Dewi Srikandhi melawan Dewi Larasati. Keindahan para penari digambarkan seperti burung merak yang sedang mengembangkan sayapnya, sehingga melahirkan nama Merak Kesimpir, lambang keanggunan, kemegahan, sekaligus pesona perempuan ksatria dalam budaya Jawa. Terjemahan Kandha Secara ringkas, kandha tersebut dapat dimaknai sebagai berikut. Tarian yang sedang dipersembahkan merupakan Srimpi, karya Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Ceritanya diambil dari Serat Ringgit Purwa mengenai pertempuran Dewi Srikandhi dengan Dewi Larasati. Para penari memasuki arena dengan penuh keanggunan, mengenakan busana indah, sehingga keelokannya menyerupai burung merak yang sedang membentangkan sayap. Sejarah Srimpi Merak Kesimpir Nama Merak Kesimpir berasal dari Gendhing Merak Kesimpir Laras Pelog Pathet Nem, yaitu komposisi karawitan yang menjadi pengiring utama tari tersebut. Dalam bahasa Jawa, merak kesimpir berarti burung merak yang sedang merentangkan sayapnya. Istilah ini menjadi simbol kecantikan, kewibawaan, dan daya tarik yang terpancar melalui gerak tari. Catatan mengenai tari ini tersimpan dalam dua manuskrip penting Keraton, yaitu: Kagungan Dalem Serat Pasindhen Bedhaya utawi Srimpi (B/S 14) Kagungan Dalem Serat Kandha Bedhaya utawi Srimpi (B/S 15) Kedua manuskrip tersebut merupakan koleksi Kapustakan Kawedanan Widya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Berdasarkan manuskrip tersebut, Srimpi Merak Kesimpir merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono VII, yang kemudian dipersembahkan kepada putra beliau, GRM Sujadi, yang kelak bertakhta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Lakon Mahabharata dalam Srimpi Merak Kesimpir Srimpi Merak Kesimpir mengambil inspirasi dari epos Mahabharata, khususnya kisah ketika Dewi Srikandhi dipinang oleh Raden Harjuna (Arjuna). Namun sebelum menerima lamaran tersebut, Dewi Srikandhi mengajukan syarat bahwa harus ada perempuan yang mampu menandingi kesaktiannya. Raden Harjuna kemudian menunjuk muridnya, Dewi Larasati, untuk memenuhi tantangan tersebut. Pertarungan kedua tokoh perempuan inilah yang menjadi inti dramatik Srimpi Merak Kesimpir. Pertemuan mereka bukan sekadar peperangan fisik, tetapi melambangkan: keberanian, kehormatan, kesetiaan, kebijaksanaan, serta keseimbangan antara kekuatan dan keanggunan perempuan Jawa. Filosofi Merak Kesimpir Dalam perspektif budaya Jawa, burung merak merupakan lambang: keindahan, kewibawaan, kemuliaan, keharmonisan, serta daya tarik yang lahir dari keluhuran budi. Karena itu, istilah Merak Kesimpir bukan sekadar nama tari, melainkan simbol pesona kasih Raden Harjuna kepada Dewi Srikandhi yang diwujudkan melalui kelembutan gerak para penari. Komposisi Iringan Karawitan Srimpi Merak Kesimpir diiringi oleh rangkaian gendhing klasik Keraton yang tersusun secara sistematis. Rangkaian tersebut meliputi: Lagon Penunggul Laras Pelog Pathet Nem Ladrang Gati Hendra Kusuma Bawa Swara Sekar Mijil Rara Manglung Gendhing Merak Kesimpir Ladrang Sekar Pepe Ketawang Cendhani Laras Pelog Pathet Nem Ladrang Gati Gatra Wirama sebagai penutup. Dalam penyajian Uyon-Uyon Hadiluhung tahun 2025, keseluruhan gendhing dipadatkan sehingga durasi pertunjukan menjadi sekitar 45 menit, tanpa mengurangi struktur maupun makna artistiknya. Komposisi Tari dan Ragam Gerak Srimpi Merak Kesimpir dibawakan oleh: empat penari putri sebagai tokoh utama, empat penari dhudhuk yang membawa properti jemparing (panah). Susunan pertunjukan mengikuti pola klasik Srimpi, yaitu: Maju Gawang Pokok Beksa Mundur Gawang Gerak tari meliputi berbagai ragam klasik Yogyakarta seperti: sembahan, ukel asta, gidrah, lampah imbal, lembehan, ngancap, ongkek, menthang jemparing, ngembat, kengser, hingga adegan njemparing secara serempak. Seluruh ragam gerak tersebut memperlihatkan keseimbangan antara estetika, teknik tubuh, dan filosofi keprajuritan perempuan Jawa. Busana dan Properti Dalam penyajian Uyon-Uyon Hadiluhung 2025, para penari menggunakan busana gladhen atau busana latihan Keraton. Busana tersebut terdiri atas: semekan bermotif semen, kain parang rusak klithik parikesit, ukel tekuk lugasan, tleseban praja cihna, sonder gendala giri. Sebagai bagian dari adegan peperangan, para penari juga membawa: jemparing (panah), keris (duwung), kestul atau pistol kecil. Keberadaan pistol kecil mencerminkan adanya adaptasi budaya Eropa yang telah lama berasimilasi dalam lingkungan Keraton Yogyakarta tanpa menghilangkan identitas budaya Jawa. Perkembangan dan Pelestarian Keindahan Srimpi Merak Kesimpir tidak hanya berkembang di lingkungan Keraton. Pada tahun 1918, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memberikan dukungan terhadap berdirinya Krida Beksa Wirama, yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan tari klasik Yogyakarta. Perjalanan pelestarian tari ini semakin meluas ketika: putra-putri Paku Alam VII mempelajarinya, putri Mangkunegaran turut menjadi murid, bahkan delapan penari Bedhaya Kasunanan Surakarta dikirim untuk mempelajarinya di Yogyakarta pada tahun 1928. Hal tersebut menunjukkan bahwa Srimpi Merak Kesimpir telah diakui sebagai salah satu mahakarya tari klasik Jawa yang memperoleh penghormatan lintas lingkungan istana. Nilai Filosofis Lebih dari sekadar pertunjukan tari, Srimpi Merak Kesimpir merupakan representasi falsafah Jawa mengenai: kehalusan budi pekerti, keseimbangan lahir dan batin, keberanian perempuan, kesetiaan, kehormatan, disiplin, pengendalian diri, serta harmoni antara seni, sastra, musik, dan spiritualitas. Nilai-nilai tersebut menjadi warisan budaya yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia masa kini. Penutup Kagungan Dalem Beksa Srimpi Merak Kesimpir merupakan salah satu mahakarya seni tari klasik Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang memadukan sastra, karawitan, koreografi, sejarah, dan filosofi Jawa dalam satu kesatuan yang utuh. Melalui pelestarian dan publikasi budaya seperti ini, Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU) berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal dan mencintai warisan budaya adiluhung Nusantara. Srimpi Merak Kesimpir bukan hanya menjadi kebanggaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya bangsa Indonesia yang patut dijaga, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang. Daftar Pustaka Artikel ini disusun berdasarkan manuskrip, literatur akademik, serta sumber resmi, antara lain: Arif E. Suprihono. Tari Srimpi: Ekspresi Budaya Para Bangsawan Jawa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995. H. R. Mangunsong. Analisis Teknik Gerak Tari Tradisional dengan Menggunakan Ilmu Kinesiologi. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 2021. Jennifer Lindsay, dkk. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid II: Kraton Yogyakarta. Yayasan Obor Indonesia, 1994. Kagungan Dalem Serat Pasindhen Bedhaya utawi Srimpi (B/S 14), Kapustakan Kawedanan Widya Budaya, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kagungan Dalem Serat Kandha Bedhaya utawi Srimpi (B/S 15), Kapustakan Kawedanan Widya Budaya, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. MRiyo Susilomadya. Serat Vokal Serimpi Merak Kesimpir – Uyon-Uyon Hadiluhung 30 Juni 2025. Kawedanan Kridhamardawa, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Moeljono. RWY Larasumbogo: Karya dan Pengabdiannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984. Susiyanti. Studi Analisis Koreografi Srimpi Merak Kesimpir Gaya Yogyakarta. ISI Yogyakarta, 1990. W.J.S. Poerwadarminta. Baoesastra Djawa. J.B. Wolters’ Uitgevers, 1939. Wawancara dengan Mg Taruna Dharma Jati, RRiyo Condroningrum, dan MJ Citrosumekto (Juni 2025). Situs resmi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat: https://kratonjogja.id Kontak Media: Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau Website : www.prajariau.org – www.prajariau.id E-Mail : admin@prajariau.org – admin@prajariau.org Post navigation KAGUNGAN DALEM BEKSAN JUNGKUNG MARDEYA: Warisan Adiluhung Seni Tari Keprajuritan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. KAGUNGAN DALEM BEKSAN PANDHAWA KURDA: Warisan Adiluhung Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang Mengajarkan Keteguhan Dharma dan Keluhuran Budi.