Pendahuluan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan salah satu pusat pelestarian budaya Jawa yang hingga kini secara konsisten menjaga, mengembangkan, dan mewariskan seni tradisi adiluhung kepada generasi penerus. Di antara berbagai repertoar tari klasik yang lahir dari lingkungan Keraton, Kagungan Dalem Beksan Pandhawa Kurda menjadi karya yang memiliki makna filosofis mendalam karena tidak hanya menyajikan keindahan gerak tari, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kepemimpinan, kesabaran, pengendalian diri, serta keteguhan menjalankan dharma. Dalam pergelaran Uyon-Uyon Hadiluhung yang diselenggarakan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Senin Pon, 4 Agustus 2025, Beksan Pandhawa Kurda kembali dipentaskan sebagai bagian dari upaya pelestarian khazanah budaya Kasultanan sekaligus media pendidikan karakter melalui seni pertunjukan klasik Jawa. Kandha (Narasi Pembuka) Sebetbyar wauta, hanenggih ingkang kawiyosaken punika, lelangen Beksan Pandhawa Kurda, yasanipun Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Wondene wedaring kandha hamethik lampahan Pandhawa Kurda. Terjemahan “Kini dipersembahkan Lelangen Beksan Pandhawa Kurda, karya Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kisah yang dibawakan mengambil lakon perjalanan Pandhawa Kurda.” Narasi kandha tersebut menjadi pengantar bagi penonton untuk memahami bahwa tarian ini merupakan sebuah karya resmi Karaton yang berangkat dari kisah kepahlawanan Pandhawa dalam epos Mahabharata. Yasan Sri Sultan Hamengku Buwono X Beksan Pandhawa Kurda merupakan Yasan (prakarsa karya) Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang diwujudkan melalui Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Melalui karya ini, Karaton menghadirkan bentuk baru tari klasik gaya Yogyakarta yang tetap berpijak pada pakem tradisi, namun memiliki pendekatan artistik yang segar, baik dari aspek koreografi, penyajian dramatik, maupun komposisi musikal. Beksan ini memperlihatkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan warisan budaya yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar filosofinya. Latar Belakang Cerita Beksan Pandhawa Kurda mengambil inspirasi dari salah satu episode penting dalam Mahabharata, yakni masa pembuangan Pandhawa Lima setelah kalah dalam permainan dadu yang direkayasa oleh Patih Sengkuni. Melalui tipu muslihat tersebut, Yudhistira kehilangan kerajaan Hastinapura beserta seluruh kekayaannya. Sebagai konsekuensinya, Pandhawa diwajibkan menjalani: 12 tahun menjalani pembuangan di hutan, kemudian 1 tahun hidup dalam penyamaran, tanpa boleh diketahui identitasnya. Peristiwa ini menjadi salah satu ujian moral terbesar bagi Pandhawa. Mereka memilih menerima keputusan dengan lapang dada demi menjaga kehormatan serta menegakkan dharma, meskipun diperlakukan secara tidak adil. Dalam khazanah pedalangan Nusantara, episode ini dikenal melalui berbagai lakon seperti Pandhawa Dhadhu atau Pandhawa Dibuang, yang sejak lama menjadi simbol kemenangan kebajikan atas keserakahan. Landasan Naskah dan Tradisi Keraton Di lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, kisah Mahabharata telah lama menjadi sumber utama berbagai karya seni pertunjukan. Sebagai acuan dramatik, Beksan Pandhawa Kurda mengembangkan cerita yang bersumber dari Serat Purwakandha, yakni kumpulan cerita wayang yang selama berabad-abad menjadi pedoman dalam pementasan Wayang Wong di lingkungan Keraton. Melalui pendekatan filologis dan hermeneutik terhadap berbagai sumber sastra Jawa klasik, kisah tersebut kemudian diwujudkan menjadi karya tari yang tetap menghormati pakem tradisi sekaligus relevan dengan perkembangan seni pertunjukan masa kini. Konsep Koreografi yang Inovatif Salah satu keistimewaan Beksan Pandhawa Kurda adalah hadirnya konsep koreografi gangsalan atau panca matayan, yakni komposisi lima penari laki-laki yang bergerak dalam pola nonasimetris. Konsep ini belum pernah dijumpai pada karya tari klasik sebelumnya. Secara filosofis, pola tersebut melambangkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Kehidupan selalu bergerak secara dinamis, penuh pilihan, serta memerlukan keseimbangan antara akal, rasa, dan tindakan. Kelima penari memerankan tokoh: Prabu Yudhistira (Puntadewa) Werkudara (Bima) Arjuna Nakula Sadewa Masing-masing memiliki karakter gerak yang berbeda sesuai sifat tokoh pewayangan. Makna Adegan Penyamaran Bagian paling menarik dari repertoar ini adalah adegan penyamaran para Pandhawa ketika memasuki Kerajaan Wiratha. Dalam Serat Kandha dijelaskan: Yudhistira menyamar menjadi Resi Tandhakangka Arjuna menjadi guru tari Wrahatnala Nakula menjadi Grantika, perawat kuda Sadewa menjadi Tantripala, penggembala ternak Bima menjadi Abilawa, seorang jagal sekaligus petarung. Perubahan identitas tersebut juga diwujudkan melalui perubahan karakter gerak tari. Perubahan ragam gerak ini menjadi simbol bahwa manusia harus mampu beradaptasi dengan keadaan tanpa kehilangan jati diri dan nilai moral yang diyakininya. Nilai Filosofis dalam Ragam Gerak Beksan Pandhawa Kurda mengadopsi berbagai unsur estetika tari Bedhaya dan tari klasik gaya Yogyakarta. Ragam gerak yang ditampilkan antara lain: Kapang-kapang maju Seleh sembahan Tata rakit lajur Dewa Impur dewa Ulap-ulap Atrap jamang Tawing ngundhuh sekar Ukel tawing Ningseti udhet Setiap gerak mengandung makna filosofis. Pola rakit yang tidak simetris menggambarkan kehidupan manusia (cakra manggilingan) yang senantiasa berputar. Sementara gerak kewaspadaan mengingatkan bahwa manusia harus mampu menjaga diri dari godaan dan tetap teguh menjalankan dharma. Komposisi Gendhing Iringan tari menggunakan seperangkat gendhing klasik berlaras Slendro Pathet Sanga, yang disusun secara dramatik mengikuti perkembangan alur cerita. Beberapa komposisi yang digunakan antara lain: Lagon Wetah Kawin Sekar Asmarandana Gagatan Gendhing Lungit Ada-Ada Playon Kalaganjur Dhawah Ayam Sepinang Ladrang Gandasuli Gendhing Kemanakan Pandhawa Kurda Lancaran Pekapalan Carabalen Gangsaran Ladrang Janti Lagon Jugag Nuansa musikal berkembang mulai dari suasana pilu ketika Pandhawa meninggalkan kerajaan, kemudian meningkat menjadi dinamis dalam adegan perjuangan, hingga mencapai klimaks pada adegan perang sebelum kembali tenang sebagai penutup kisah. Busana Gladhen yang Sarat Makna Dalam penyajian Uyon-Uyon Hadiluhung, para penari mengenakan busana gladhen (busana latihan) yang sederhana namun sarat simbol. Busana tersebut meliputi: Nyamping motif Kawung Seling Klithik Celana panji hitam Sondher putih Udheng hitam berhias merah Sabuk merah Kamus Untu Walang Dominasi warna hitam dan putih melambangkan kesederhanaan hidup Pandhawa ketika menjalani masa pembuangan serta menggambarkan keseimbangan antara terang dan gelap, baik dan buruk, yang selalu hadir dalam perjalanan kehidupan manusia. Makna Filosofis Beksan Pandhawa Kurda Lebih dari sekadar pertunjukan tari, Beksan Pandhawa Kurda merupakan media pendidikan karakter yang mengajarkan nilai-nilai universal. Beberapa pesan moral yang terkandung di dalamnya antara lain: Keteguhan menjalankan dharma, meskipun berada dalam situasi yang tidak adil. Kesabaran menghadapi cobaan, tanpa kehilangan martabat. Kemampuan mengendalikan ego, sebagai bentuk kemenangan sejati. Kerendahan hati, meskipun memiliki kekuatan dan kedudukan. Kesetiaan terhadap keluarga dan persaudaraan, sebagaimana ditunjukkan Pandhawa Lima. Kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dengan mengutamakan kepentingan bersama. Melalui simbol-simbol gerak, iringan, serta alur cerita, Beksan Pandhawa Kurda mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan musuh, melainkan mampu menaklukkan hawa nafsu, menjaga kehormatan, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebajikan. Warisan Budaya yang Terus Hidup Beksan Pandhawa Kurda menunjukkan bahwa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat terus berperan sebagai pusat pelestarian budaya Jawa yang dinamis. Melalui karya-karya baru yang tetap berpijak pada pakem tradisi, Karaton menghadirkan seni sebagai sarana pendidikan, pembentukan karakter, dan pewarisan nilai-nilai luhur kepada masyarakat. Bagi Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU), publikasi mengenai Beksan Pandhawa Kurda merupakan bagian dari komitmen untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, serta menyebarluaskan kekayaan budaya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat kepada masyarakat luas sebagai warisan peradaban Nusantara yang harus terus dijaga, dipelajari, dan dilestarikan lintas generasi. Daftar Wawancara KRT Condrowaseso (Pemucal Beksa), 25 Juli 2025. MRy Dirjomanggolo (Penata Busana), 25 Juli 2025. MB Srikawuryan (Penata Gendhing), 25 Juli 2025. Situs resmi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat: https://kratonjogja.id Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU) Website: www.prajariau.org | www.prajariau.idMisi: Merawat, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan warisan budaya adiluhung Post navigation KAGUNGAN DALEM BEKSA SRIMPI MERAK KESIMPIR. SEJARAH, NILAI DAN WARISAN KI AGENG GIRING