Oleh: Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU)

Bedhaya Babarlayar: Mahakarya Adiluhung dari Khazanah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Di antara sekian banyak warisan seni tari klasik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Bedhaya Babarlayar menempati posisi yang sangat istimewa. Tarian ini bukan sekadar pertunjukan estetika, melainkan sebuah pusaka budaya (Kagungan Dalem) yang memadukan sastra, sejarah, filosofi kepemimpinan, nilai keprajuritan, spiritualitas, hingga keindahan koreografi Jawa klasik.

Sebagai salah satu Bedhaya arkais (sepuh), Bedhaya Babarlayar menjadi bukti tingginya peradaban seni di lingkungan Keraton Yogyakarta yang diwariskan lintas generasi selama berabad-abad. Melalui gerak yang anggun, iringan gamelan yang agung, serta narasi yang penuh makna, tarian ini merepresentasikan kebesaran budaya Mataram Islam sekaligus memperlihatkan kecanggihan pemikiran para leluhur dalam menyampaikan pesan moral melalui seni pertunjukan.

Pelestarian Bedhaya Babarlayar hingga masa kini merupakan bagian dari komitmen Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menjaga kesinambungan warisan budaya Nusantara agar tetap hidup, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi penerus.

Kisah Kepahlawanan yang Berakhir dengan Perdamaian

Cerita Bedhaya Babarlayar bersumber dari Kagungan Dalem Serat Klana Giwangkara, sebagaimana termuat dalam Kagungan Dalem Manuskrip B/S 24.

Naskah tersebut mengisahkan perjalanan seorang ratu dari Negeri Ngambarkumala yang memimpin pasukan perempuan melakukan ekspedisi militer menuju Negeri Kandhabuwana.

Sesampainya di muara, armada kerajaan menaiki kapal dan ambabar layar (membentangkan layar) untuk memulai pelayaran menuju medan peperangan. Adegan inilah yang kemudian melahirkan nama “Babarlayar”.

Di Negeri Kandhabuwana, sang ratu berhadapan dengan putra mahkota kerajaan. Pertempuran berlangsung sengit. Panah dilepaskan, senjata beradu, dan keberanian kedua belah pihak diuji.

Namun di balik peperangan tersebut tumbuh benih-benih cinta antara kedua pemimpin. Konflik yang semula dipenuhi semangat penaklukan berubah menjadi kisah penyatuan hati.

Narasi demikian merupakan tema yang banyak ditemukan dalam sastra klasik Jawa, baik dalam cerita Panji, wayang, maupun babad, di mana peperangan tidak selalu berakhir dengan kehancuran, melainkan menuju perdamaian melalui kebijaksanaan dan kasih sayang.

Melalui kisah tersebut, Bedhaya Babarlayar menyampaikan pesan bahwa keberanian sejati bukan hanya terletak pada kemenangan di medan perang, melainkan juga pada kemampuan menaklukkan ego demi terciptanya harmoni.

Sejarah Panjang Bedhaya Babarlayar

Menurut tradisi Keraton Yogyakarta, Bedhaya Babarlayar dipercaya telah ada sejak masa Sultan Agung Hanyakrakusuma pada abad ke-17 sebagai salah satu tari Bedhaya tertua.

Setelah Perjanjian Giyanti (1755), tarian tersebut diwariskan kepada Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bersama beberapa Bedhaya sepuh lainnya seperti:

  • Bedhaya Semang
  • Bedhaya Rambu
  • Bedhaya Babarlayar

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755–1792), Bedhaya Babarlayar mengalami penyempurnaan dan ditetapkan sebagai Yasan Dalem, yakni karya resmi Sultan yang dipersembahkan kepada Putra Mahkota Raden Mas Sundoro.

Selanjutnya, pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855–1877), tarian ini kembali digubah dan dianugerahkan kepada putranya, Raden Mas Murtejo, yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Di sisi lain, tradisi lisan (gothek) juga menyebutkan bahwa Bedhaya Babarlayar berasal dari lingkungan Kasunanan Surakarta, sebagai Yasan Dalem Sri Susuhunan Paku Buwono II, yang kemudian dilestarikan kembali oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Perbedaan tradisi tersebut justru memperlihatkan eratnya hubungan budaya antara dua pewaris Kerajaan Mataram Islam, yang tercermin pada karakter musikal maupun koreografi Bedhaya Babarlayar.

Keunikan Iringan Gamelan

Bedhaya Babarlayar menggunakan Laras Pelog Pathet Barang dengan susunan gendhing yang sangat lengkap dan kompleks.

Rangkaian iringan meliputi:

  • Lagon Wetah
  • Ladrang Mesem-Mesem
  • Kawin Sekar Asmaradana
  • Gendhing Babarlayar
  • Ladrang Tedhak Saking
  • Sekar Ageng Madukusuma
  • Ketawang Priyambada
  • Ayak-ayak
  • Srepegan
  • Ladrang Kenasih
  • Lagon Jugag

Keistimewaan lainnya adalah hadirnya buka rebab, sesuatu yang lazim dijumpai pada tradisi Bedhaya Surakarta tetapi relatif jarang ditemukan dalam tradisi Bedhaya Yogyakarta.

Selain itu, penggunaan Gendhing Babarlayar berlaras Pelog Pathet Barang menjadi kekhasan tersendiri karena berbeda dengan tradisi Yogyakarta yang selama ini mengenal Gendhing Babarlayar sebagai Gendhing Soran berlaras Pelog Pathet Lima.

Perpaduan tersebut memperkaya khazanah karawitan klasik Keraton Yogyakarta.

Struktur Koreografi

Bedhaya Babarlayar disajikan selama kurang lebih 55 menit dan dibawakan oleh:

  • 9 penari putri (Bedhaya)
  • 2 penari dhudhuk sebagai pembawa jemparing (panah)

Pertunjukan diawali dengan:

  • Kapang-kapang majeng
  • Rakit Ajeng-ajengan
  • Mlebet Lajur
  • Medali Lajur
  • Lumbungan
  • Tiga-tiga

Bagian inti cerita divisualisasikan melalui rakit gelar, yaitu formasi tari yang menggambarkan jalannya peperangan sekaligus perkembangan hubungan antar tokoh.

Pada bagian penutup, para penari kembali menuju pola Bedhaya melalui lampah pocong, kemudian diakhiri dengan kapang-kapang mundur.

Tokoh utama digambarkan melalui posisi:

  • Endhel Pajeg sebagai Ratu Ngambarkumala
  • Batak sebagai Raja Kandhabuwana

Keunikan Artistik Bedhaya Babarlayar

Sebagai salah satu Bedhaya tertua, Bedhaya Babarlayar memiliki sejumlah karakteristik yang tidak ditemukan pada Bedhaya lainnya, antara lain:

  • pola gerak encot-encot, impang encot, serta mapan ngenceng yang mengacu pada Bedhaya Semang;
  • pola mlampah lumbungan berbentuk melingkar;
  • ragam tawing tanjak;
  • penggunaan rakit gelar lebih awal pada iringan ladrang;
  • formasi dua banjar sejajar yang terdiri atas empat dan lima penari, sebuah pola yang sangat jarang dijumpai dalam repertoar Bedhaya lainnya.

Keunikan inilah yang menjadikan Bedhaya Babarlayar memiliki identitas artistik yang khas di lingkungan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Busana: Simbol Kesederhanaan yang Anggun

Dalam pementasan Uyon-Uyon Hadiluhung 22 Desember 2025, para penari mengenakan busana gladhen (busana latihan), yang tetap mempertahankan nilai estetika dan filosofi Keraton.

Busana tersebut meliputi:

  • tata rambut ukel tekuk;
  • tleseban praja cihna keemasan;
  • kampuh bermotif kawung;
  • nyamping dan sondher Gendhala Giri berwarna biru;
  • keris sebagai simbol kehormatan.

Sementara itu, penari dhudhuk mengenakan:

  • nyamping motif Larasati;
  • sabukwala;
  • udhet Gendhala Giri warna putih tulang.

Seluruh unsur busana tidak hanya memperindah tampilan, tetapi juga mengandung simbol kedisiplinan, kewibawaan, dan kehalusan budi yang menjadi karakter utama tari Bedhaya.

Rekonstruksi sebagai Bentuk Pelestarian Warisan Budaya

Bedhaya Babarlayar pernah direkonstruksi melalui kolaborasi antara KRT Mangkuwinata dan Nyi KRT Pujaningsih.

Pementasan hasil rekonstruksi tersebut diselenggarakan pada tahun 2008 di Ndalem Yudaningratan melalui kerja sama antara Puspaning Asih Wiraga (Yogyakarta) dengan The Institute of Ethnomusicology, Tokyo College of Music (Jepang).

Versi yang dipentaskan dalam Uyon-Uyon Hadiluhung 22 Desember 2025 merupakan bentuk penyajian jugag, hasil rekonstruksi berdasarkan Kagungan Dalem Manuskrip B/S 7, sebagai bagian dari upaya ilmiah untuk menghidupkan kembali warisan tari klasik yang hampir punah.

Nilai Filosofis Bedhaya Babarlayar

Lebih dari sekadar seni pertunjukan, Bedhaya Babarlayar mengandung nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga saat ini, antara lain:

  • keberanian dalam menghadapi tantangan;
  • kepemimpinan yang berlandaskan kebijaksanaan;
  • penghormatan terhadap martabat perempuan;
  • keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan;
  • perdamaian sebagai tujuan tertinggi setelah konflik;
  • keselarasan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Nilai-nilai tersebut menjadi refleksi ajaran luhur budaya Jawa yang diwariskan oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat kepada masyarakat luas.

Komitmen Pelestarian oleh Keraton Yogyakarta

Revitalisasi Bedhaya Babarlayar menunjukkan komitmen nyata Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam melestarikan seni tradisi yang bernilai tinggi.

Upaya rekonstruksi, penelitian manuskrip, dokumentasi, hingga pementasan kembali merupakan bagian dari tanggung jawab budaya untuk memastikan bahwa warisan adiluhung ini tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Pelestarian tersebut tidak hanya memperkaya khazanah seni Indonesia, tetapi juga memperkuat identitas budaya bangsa sebagai salah satu peradaban besar di Nusantara.

Penutup

Bedhaya Babarlayar adalah manifestasi kehalusan budi, kedalaman filosofi, dan kemegahan seni klasik Jawa. Melalui perpaduan sastra, musik, tari, dan simbolisme yang harmonis, karya adiluhung ini menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bagi Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU), publikasi mengenai Bedhaya Babarlayar merupakan bagian dari ikhtiar untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, dan mewariskan kekayaan budaya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat kepada masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Dengan memahami nilai sejarah, filosofi, dan estetika yang terkandung di dalamnya, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya adiluhung sebagai identitas bangsa yang tak ternilai.


Daftar Pustaka

  1. Kagungan Dalem Manuskrip B/S 7 Serat Beksa Bedhaya utawi Srimpi.
  2. Kagungan Dalem Manuskrip B/S 8 Serat Kandha Bedhaya utawi Srimpi.
  3. Kagungan Dalem Manuskrip B/S 19 Serat Pasindhen Bedhaya utawi Srimpi.
  4. Kagungan Dalem Manuskrip B/S 22 Serat Pasindhen Bedhaya utawi Srimpi.
  5. Kagungan Dalem Manuskrip B/S 24 Serat Kandha Bedhaya utawi Srimpi.
  6. Jennifer Lindsay, dkk. (1994). Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid II: Kraton Yogyakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  7. Pradjapangrawit, R. Ng. (1990). Serat Sujarah utawi Riwayating Gamelan: Wedhapradangga. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta.
  8. Wawancara dengan Nyi RRy Pujaningrum, Nyi RW Widyawahyubudaya, dan Nyi MRy Pramudita (14 Desember 2025).
  9. Wawancara dengan Nyi MJ Silihsumekto (14 Desember 2025).
  10. Wawancara dengan Mas Ry Susilomadyo (18 Desember 2025).
  11. Situs resmi Karaton Ngayogyakarta Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat (https://kratonjogja.id)

Kontak Media: Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau

Website             : www.prajariau.org – www.prajariau.id

E-Mail                : admin@prajariau.orgadmin@prajariau.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *