Oleh: Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU)

Beksan Nyakrakusuma: Warisan Agung Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Di antara kekayaan seni klasik yang lahir dari lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Beksan Nyakrakusuma menempati posisi yang sangat istimewa sebagai salah satu karya tari keprajuritan tertua yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan pendidikan karakter.

Beksan ini merupakan Yasan Dalem (karya cipta raja) Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755–1792), pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tarian ini diciptakan pada masa awal berdirinya Kesultanan, sekitar tahun 1755–1765, bersamaan dengan penciptaan Beksan Trunajaya dan Beksan Guntur Segara.

Penciptaannya tidak sekadar menghadirkan sebuah pertunjukan tari, tetapi merupakan manifestasi penghormatan Sri Sultan Hamengku Buwono I kepada Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja besar Kesultanan Mataram Islam yang dikenal sebagai negarawan visioner, pemimpin militer ulung, sekaligus simbol perlawanan terhadap kolonialisme.

Melalui Beksan Nyakrakusuma, Sri Sultan Hamengku Buwono I mewariskan semangat patriotisme, keberanian, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap tanah air kepada generasi penerus Kasultanan.

Filosofi Nama Nyakrakusuma

Nama Nyakrakusuma berasal dari gelar kebesaran Sultan Agung Hanyakrakusuma, tokoh yang menjadi inspirasi utama penciptaan tari ini.

Secara filosofis, nama tersebut melambangkan:

  • keberanian seorang pemimpin,
  • kejayaan kerajaan yang berlandaskan kebijaksanaan,
  • semangat perjuangan yang tidak pernah padam,
  • serta kemuliaan budi pekerti yang menjadi dasar kepemimpinan Jawa.

Karena itulah, Beksan Nyakrakusuma bukan sekadar tari peperangan, melainkan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur kepemimpinan Mataram yang diwariskan kepada Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Makna Kepahlawanan dalam Beksan Nyakrakusuma

Tema utama Beksan Nyakrakusuma adalah kepahlawanan (wira rasa).

Namun peperangan yang ditampilkan bukan sekadar pertarungan fisik.

Di balik setiap gerakan tersimpan pesan moral bahwa seorang ksatria Jawa harus mampu mengendalikan:

  • keberanian,
  • kesabaran,
  • kehormatan,
  • kecerdasan,
  • dan penguasaan diri.

Dalam pandangan budaya Jawa, kemenangan sejati bukanlah mengalahkan lawan, melainkan mampu menaklukkan hawa nafsu serta menjaga kehormatan diri.

Nilai-nilai tersebut menjadi landasan pendidikan karakter di lingkungan Keraton sejak abad ke-18.

Roman Panji sebagai Sumber Cerita

Alur cerita Beksan Nyakrakusuma mengambil inspirasi dari Roman Panji, salah satu karya sastra klasik terbesar Nusantara yang telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World.

Dalam kisah ini:

  • Raden Panji menjelma sebagai Raja Nyakrakusuma,
  • sementara Dewi Anggraeni menjelma sebagai Raja Mandrakusuma.

Keduanya terlibat peperangan yang berlangsung sengit.

Namun peperangan tersebut tidak menghasilkan pemenang maupun pihak yang kalah.

Pesan yang hendak disampaikan adalah bahwa kekuatan sejati bukanlah menghancurkan lawan, melainkan menemukan keseimbangan, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap sesama.

Gambaran Latihan Keprajuritan Keraton

Beksan Nyakrakusuma menggambarkan latihan keterampilan para prajurit dan kerabat Keraton dalam menggunakan senjata tradisional.

Gerakan-gerakannya memperlihatkan:

  • teknik memanah,
  • penggunaan keris,
  • strategi perang,
  • formasi pasukan,
  • hingga disiplin seorang prajurit kerajaan.

Seluruh gerakan disusun menggunakan karakter alus impur, yakni karakter tari putra halus yang tetap memperlihatkan kewibawaan dan kekuatan.

Keindahan tari lahir dari perpaduan antara kelembutan gerak dan ketegasan sikap seorang ksatria.

Penyajian Tari

Beksan Nyakrakusuma dibawakan oleh empat penari putra, sehingga termasuk dalam kategori Beksan Sekawanan.

Struktur penyajiannya terdiri atas tiga bagian utama:

1. Maju Beksa

Penari memasuki arena, membentuk rakit, melakukan sembahan sebagai penghormatan, kemudian memasuki bagian tari pembuka.

2. Beksan Pokok

Bagian inti yang menggambarkan latihan perang, teknik memanah, penggunaan keris, strategi tempur, serta peperangan antar ksatria.

3. Mundur Beksa

Bagian penutup yang diakhiri dengan sembahan dan keluarnya para penari dari arena sebagai simbol berakhirnya tugas seorang prajurit.

Keseluruhan tari memuat 19 ragam gerak, di antaranya:

  • Sembahan
  • Udhar Asta
  • Tayungan
  • Ndhadhap
  • Jengkeng
  • Sabetan
  • Impur
  • Nyandhak
  • Capeng
  • Engkrang
  • Samberan
  • Ngembat Jemparing
  • Enjer Jemparing
  • Ngancap Trisig
  • Nggurdha
  • Perang Jemparing
  • Perang Keris
  • Pendhapan
  • Ombak Banyu

Setiap ragam gerak memiliki makna simbolik mengenai kesiapsiagaan, keberanian, keseimbangan, serta pengendalian diri.

Keindahan Musik Pengiring

Beksan Nyakrakusuma diiringi seperangkat gamelan pelog pathet barang, yang menghadirkan nuansa agung sekaligus heroik.

Beberapa gendhing utama yang mengiringi pertunjukan antara lain:

  • Lagon Wetah
  • Ladrang Kongas
  • Kawin Sekar Asmarandana
  • Ketawang Puspa Warna
  • Ada-Ada Jugag
  • Kawin Jemparing
  • Plajaran Mataraman
  • Kawin Narik Curiga
  • Ayak-ayak Pelog Barang
  • Ketawang Sri Malela
  • Lagon Jugag

Di sela-sela permainan gamelan dibacakan Kandha, yaitu narasi yang menjelaskan alur cerita sehingga penonton dapat memahami jalannya pertunjukan.

Busana Ksatria Keraton

Busana Beksan Nyakrakusuma memperlihatkan identitas prajurit bangsawan Keraton Yogyakarta.

Kelengkapannya meliputi:

  • Irah-irahan tepen
  • Kalung sangsangan sungsun
  • Kelat bahu
  • Kamus timang bordir
  • Lontong cindhe
  • Bara cindhe
  • Sondher cindhe
  • Celana Panji
  • Nyamping motif Parang Barong Alit Ceplok Gurdha
  • Lancingan cindhe
  • Keris (Dhuwung Branggah)
  • Oncen

Seluruh busana dirancang tidak hanya untuk keindahan visual, tetapi juga sebagai simbol status, kewibawaan, dan karakter seorang ksatria Jawa.

Jejak Sejarah Pementasan

Dalam sejarahnya, Beksan Nyakrakusuma dipentaskan pada berbagai upacara penting Kasultanan.

Beberapa di antaranya ialah:

  • Upacara pernikahan putri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, GKR Timur, dengan KGPAA Mangkunegara VII sekitar tahun 1920.
  • Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1957 yang dipentaskan oleh Bebadan Among Beksa di Dalem Purwodiningratan.

Pementasan tersebut menunjukkan bahwa Beksan Nyakrakusuma memiliki kedudukan penting sebagai bagian dari tradisi kenegaraan Kasultanan.

Nilai-Nilai Luhur yang Diwariskan

Sebagai warisan budaya adiluhung, Beksan Nyakrakusuma mengajarkan berbagai nilai kehidupan yang tetap relevan hingga masa kini, antara lain:

  • Patriotisme dan cinta tanah air.
  • Kepemimpinan yang berlandaskan kebijaksanaan.
  • Disiplin dan tanggung jawab.
  • Keberanian menghadapi tantangan.
  • Pengendalian diri.
  • Kesetiaan kepada bangsa dan negara.
  • Penghormatan terhadap tradisi dan leluhur.
  • Keharmonisan antara kekuatan fisik dan kematangan spiritual.

Nilai-nilai tersebut menjadikan Beksan Nyakrakusuma bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang membentuk karakter manusia berbudi luhur.

Pelestarian sebagai Tanggung Jawab Bersama

Sebagai salah satu mahakarya seni klasik Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Beksan Nyakrakusuma merupakan bagian penting dari identitas budaya bangsa Indonesia.

Melestarikan tari ini berarti menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, sekaligus memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.

Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU) berkomitmen mendukung upaya pelestarian, pendokumentasian, dan penyebarluasan khazanah budaya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai media edukasi publik dan penguatan karakter generasi penerus.


Daftar Pustaka

  • Darmo Sudibyo, Sri Sadono. (1988). Studi Analisis Bentuk Beksan Nyokrokusumo Gaya Yogyakarta. Tugas Akhir, Jurusan Seni Tari, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
  • Wawancara dengan KRT Suryoamiseno dan MJ Kayunsumekto (21 Januari 2020).
  • Wawancara dengan RM Pramutomo (22 Februari 2020).
  • Wawancara dengan MP Susilomadyo (23 Januari 2020).
  • Media Center Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU)

Website: www.prajariau.orgwww.prajariau.id
E-mail: admin@prajariau.org

“Merawat warisan budaya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi masa depan sebagai fondasi karakter bangsa.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *