“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarah dan para pendahulunya. Imogiri bukan sekadar kompleks pemakaman, melainkan monumen hidup yang menyimpan perjalanan panjang peradaban Mataram dan nilai-nilai luhur budaya Jawa.”

Pendahuluan

Di puncak perbukitan yang menghadap hamparan alam selatan Yogyakarta berdiri sebuah kompleks pemakaman kerajaan yang telah menjadi saksi perjalanan sejarah lebih dari tiga abad. Tempat tersebut adalah Pasarean Imogiri, atau yang lebih dikenal sebagai Makam Imogiri, yakni kompleks pemakaman Raja-Raja Mataram Islam beserta para penerus dinastinya.

Bagi masyarakat Jawa, Imogiri bukan hanya tempat peristirahatan terakhir para raja, melainkan juga ruang spiritual yang merepresentasikan hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Di sinilah nilai sejarah, arsitektur, filosofi, serta tradisi luhur Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bertemu menjadi satu kesatuan yang utuh.

Sebagai bagian dari khazanah budaya Nusantara, Makam Imogiri memiliki arti penting dalam memahami perjalanan Kerajaan Mataram Islam, lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kasunanan Surakarta Hadiningrat, hingga keberlangsungan tradisi kerajaan Jawa pada masa kini.

Artikel ini disusun sebagai media edukasi sejarah dan pelestarian budaya oleh Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU) agar warisan adiluhung Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dapat terus dikenal, dipahami, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Makna Nama Imogiri

Kompleks Makam Imogiri terletak sekitar 16 kilometer di sebelah selatan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya di Kalurahan Girirejo dan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nama Imogiri berasal dari bahasa Sanskerta:

  • Hima, berarti kabut.
  • Giri, berarti gunung.

Dengan demikian, Imogiri dapat dimaknai sebagai “gunung yang diselimuti kabut”, sebuah nama yang mencerminkan suasana sakral sekaligus keagungan tempat tersebut.

Dalam pandangan kosmologi Jawa, gunung merupakan lambang kedekatan manusia dengan Yang Mahakuasa, tempat yang tinggi dianggap sebagai ruang suci yang menghubungkan dunia manusia dengan alam spiritual.

Mengapa Makam Raja Dibangun di Atas Bukit?

Pemilihan bukit sebagai lokasi pemakaman kerajaan bukanlah keputusan yang bersifat praktis semata, melainkan berakar pada filosofi dan kepercayaan masyarakat Jawa yang telah berkembang sejak masa pra-Hindu.

Dalam tradisi Nusantara kuno, bukit dan gunung dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh para leluhur. Pandangan tersebut kemudian berakulturasi dengan ajaran Hindu-Buddha yang memandang gunung sebagai simbol Gunung Mahameru, pusat alam semesta sekaligus lambang kesucian.

Ketika Islam berkembang di tanah Jawa, nilai-nilai tersebut tidak dihilangkan, melainkan diselaraskan dengan ajaran Islam sehingga melahirkan bentuk budaya baru yang khas. Oleh sebab itu, pemakaman Sultan Agung beserta keturunannya di atas bukit mencerminkan perpaduan harmonis antara tradisi lokal, nilai Hindu-Buddha, dan spiritualitas Islam.

Dibangun oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma

Pasarean Imogiri mulai dibangun pada tahun 1632 Masehi atas prakarsa Sri Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja terbesar Kerajaan Mataram Islam yang memerintah pada periode 1613–1645.

Pembangunan kompleks makam dipimpin oleh Kiai Tumenggung Citrokusumo, salah seorang pejabat tinggi kerajaan yang dipercaya mengawasi pembangunan kawasan suci tersebut.

Menurut tradisi Keraton, Sultan Agung memilih sendiri lokasi Imogiri setelah melakukan laku spiritual. Bukit tersebut dipandang sebagai tempat yang paling tepat untuk menjadi pemakaman para raja Mataram beserta keturunannya.

Sejak saat itu, Imogiri menjadi pusat pemakaman kerajaan yang tetap digunakan hingga masa Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Arsitektur: Perpaduan Islam dan Tradisi Jawa

Salah satu keistimewaan Pasarean Imogiri terletak pada arsitekturnya yang merupakan perpaduan harmonis antara budaya Jawa, Hindu, dan Islam.

Dominasi bata merah pada bangunan merupakan ciri khas arsitektur Jawa-Islam abad ke-17 yang masih mempertahankan teknik bangunan era Majapahit.

Keunikan lainnya adalah teknik penyusunan bata yang tidak menggunakan semen ataupun perekat modern.

Para ahli menduga bahwa bangunan tersebut menggunakan metode tradisional yang dikenal sebagai kosod, yaitu menggosok dua permukaan bata yang telah dibasahi hingga menghasilkan cairan perekat alami. Teknik ini menunjukkan tingginya pengetahuan teknologi bangunan masyarakat Jawa pada masa itu.

Hingga kini sebagian besar struktur asli tersebut masih dapat bertahan meskipun telah berusia lebih dari tiga abad.

Anak Tangga Menuju Kesucian

Untuk mencapai kompleks makam, para peziarah harus menaiki ratusan anak tangga yang membelah lereng bukit.

Tangga-tangga tersebut dibuat relatif pendek sehingga memudahkan langkah para peziarah yang mengenakan pakaian adat Jawa.

Pendakian menuju puncak Imogiri bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga menjadi simbol perjalanan spiritual manusia menuju kehidupan yang lebih luhur.

Pada area-area tertentu hingga kini masih berlaku ketentuan mengenakan busana adat Jawa sebagai bentuk penghormatan terhadap kesakralan kawasan makam.

Tradisi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa nilai budaya Keraton tetap dijaga secara konsisten dari generasi ke generasi.

Tata Ruang Sakral Pasarean Imogiri

Kompleks Pasarean Imogiri dibangun berdasarkan konsep tata ruang tradisional Jawa yang membedakan tingkat kesucian setiap kawasan.

Seluruh jalur tangga dan gapura disusun dalam satu garis lurus menuju puncak bukit, menggambarkan perjalanan manusia menuju kesempurnaan spiritual.

Secara berurutan kawasan tersebut terdiri atas tiga bagian utama.

1. Area Publik

Merupakan kawasan paling luar yang ditandai oleh Gapura Supit Urang, yaitu pintu masuk utama menuju kompleks pemakaman.

Area ini menjadi ruang transisi dari kehidupan dunia menuju kawasan yang lebih sakral.

2. Area Semi Sakral (Sri Manganti)

Di kawasan ini berdiri Gapura Paduraksa, yaitu gapura beratap yang memiliki daun pintu.

Gapura Paduraksa di Imogiri dihiasi ornamen sayap pada kedua sisinya.

Sayap tersebut melambangkan kebebasan jiwa manusia setelah meninggalkan kehidupan dunia, sebuah filosofi Jawa mengenai perjalanan ruh menuju keabadian.

3. Area Sakral (Kedhaton)

Merupakan ruang inti pemakaman para raja beserta keluarga inti kerajaan.

Hanya pada area inilah makam-makam Sultan dan para bangsawan utama berada.

Kesakralan kawasan ini dijaga melalui berbagai tata cara adat yang masih dipelihara hingga sekarang.

Kompleks Makam Raja-Raja Mataram

Sultan Agung Hanyakrakusuma menjadi raja pertama yang dimakamkan di Pasarean Imogiri.

Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kompleks pemakaman pun turut terbagi mengikuti garis keturunan masing-masing dinasti.

Saat ini Pasarean Imogiri terdiri atas beberapa kompleks utama, yaitu:

  • Kasultanagungan, sebagai kompleks awal yang dibangun oleh Sultan Agung.
  • Pakubuwanan, untuk keluarga Kasunanan Surakarta.
  • Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
  • Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pembagian tersebut tetap mempertahankan kesatuan kawasan Imogiri sebagai makam dinasti besar Mataram Islam.

Astana Raja-Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Di lingkungan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat tiga Kedhaton (Astana) utama.

Astana Kasuwargan

Merupakan tempat peristirahatan:

  • Sri Sultan Hamengku Buwana I
  • Sri Sultan Hamengku Buwana III

Astana Besiyaran

Menjadi tempat dimakamkannya:

  • Sri Sultan Hamengku Buwana IV
  • Sri Sultan Hamengku Buwana V
  • Sri Sultan Hamengku Buwana VI

Astana Saptarengga

Merupakan tempat peristirahatan:

  • Sri Sultan Hamengku Buwana VII
  • Sri Sultan Hamengku Buwana VIII
  • Sri Sultan Hamengku Buwana IX

Adapun Sri Sultan Hamengku Buwana II, yang wafat pada tahun 1828, dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede karena kondisi politik pada masa pemerintahannya.

Imogiri sebagai Warisan Budaya Nasional

Selama lebih dari tiga abad, Pasarean Imogiri telah menjadi saksi lahir, berkembang, dan berubahnya Kerajaan Mataram Islam beserta kerajaan-kerajaan penerusnya.

Pergantian ibu kota kerajaan, perpecahan politik, penjajahan kolonial, hingga lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak menghilangkan fungsi Imogiri sebagai tempat peristirahatan para raja.

Kompleks ini tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi pusat pelestarian berbagai tradisi Keraton, mulai dari tata busana, adat ziarah, arsitektur klasik, hingga filosofi kehidupan masyarakat Jawa.

Sebagai salah satu warisan budaya yang masih lestari, Pasarean Imogiri menjadi bukti bahwa kebesaran sebuah peradaban tidak hanya dikenang melalui istana dan bangunan megah, tetapi juga melalui penghormatan terhadap para pendahulu yang telah membangun fondasi kebudayaan.

Penutup

Pasarean Imogiri merupakan salah satu mahakarya budaya yang memperlihatkan perpaduan harmonis antara spiritualitas, arsitektur, sejarah, dan filosofi Jawa. Lebih dari sekadar kompleks pemakaman kerajaan, Imogiri adalah simbol kesinambungan peradaban Mataram yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Bagi Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU), mengenal dan memahami sejarah Pasarean Imogiri merupakan bagian dari upaya nguri-uri kabudayan—melestarikan nilai-nilai luhur Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai warisan budaya bangsa.

Melalui publikasi edukatif seperti ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa menjaga situs-situs bersejarah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga menjadi kewajiban bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap jati diri, sejarah, dan peradaban Indonesia.


Daftar Pustaka

Arif Gunawan, dkk. 2013. Spatial Analysis to Predict Conservation Heritage’s Damage of “Imogiri Graves” by Using Microtremor Measurements. Jurnal Tata Kota dan Daerah, Volume 5.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. 2017. Danapratapa: Abadi di Puncak Imogiri. Produksi Tepas Tandha Yekti.

Sektiadi, S.S., M.Hum. 2012. Makam Imogiri. Universitas Gadjah Mada.

Carey, Peter. 2008. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Leiden: KITLV Press.

Ricklefs, M.C. 2007. Sejarah Indonesia Modern 1200–2004. Jakarta: Serambi.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.


Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau (PRAJA RIAU)

Website: www.prajariau.org | www.prajariau.id
E-mail: admin@prajariau.org

“Nguri-uri Kabudayan, Ngayuh Kamulyan Bangsa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *